Friday, January 13, 2012

 
JAKARTA - INDOPOS Pakar elektronika dari ITB, Kastam Astami mengungkapkan, produk meteran (kWh) listrik prabayar lokal memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. "Kami dari ITB sudah punya produk kWh prabayar dengan TKDN mencapai 43 persen," kata Kastam saat dihubungi di Jakarta, Kamis (5/1). Menurut dia, sesuai aturan, pelaksana tender seperti PT PLN (Persero) harus memberi prioritas kepada produk yang memiliki TKDN lebih dari 40 persen.

Posted by M. Hatta Adam 0 comments
Read More

Thursday, November 17, 2011



International Organization for Standardization (ISO) tahun 2011 merilis ISO 50001, yaitu sebuah standar untuk sistem manajemen energi. Standar tersebut bertujuan membantu organisasi dalam membangun sistem dan proses untuk meningkatkan kinerja, efisiensi, dan konsumsi energi. Standar tersebut berlaku bagi semua jenis dan ukuran organisasi.

Pada awalnya, ISO 50001 berasal dari permintaan sebuah lembaga di bawah PBB, yaitu United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), akan adanya standar manajemen energi yang berlaku secara internasional. Kemudian pada tahun 2008 ISO membentuk sebuah komite proyek, bernama ISO/PC 242 - Energy Management, untuk mengembangkan standar tersebut. Setelah melalui proses yang panjang dan melibatkan seluruh pakar – pakar yang ada di forum internasional, akhirnya pada tanggal 17 Juni 2011 International Organization for Standardization (ISO) meluncurkan standar baru ISO 50001: 2011 “Energy management systems – Requirements with guidance for use” di Geneve International Conference Centre (CICG), Switzerland. Acara peluncuran ini dihadiri 200 peserta dari berbagai negara dimana diantaranya adalah 100 pakar dari 45 negara yang berpartisipasi dalam pengembangan standar ISO 50001. 

ISO 50001 dirancang untuk membantu perusahaan agar lebih baik dalam menggunakan aset energinya, untuk mengevaluasi dan memprioritaskan penggunaan teknologi hemat energi, serta untuk mendorong efisiensi pada seluruh rantai suplai. ISO 50001 juga dirancang agar dapat terintegrasi dengan standar manajemen lain, terutama ISO 14001 (sistem manajemen lingkungan) dan ISO 9001 (sistem manajemen mutu).

Standar baru tersebut menetapkan persyaratan untuk pengukuran, dokumentasi dan pelaporan, desain dan praktek pengadaan untuk peralatan, sistem, proses dan personel yang berkontribusi terhadap kinerja energi. ISO 50001 tidak menetapkan kriteria kinerja khusus sehubungan dengan energi, meskipun demikian tetap diperlukan partisipasi perusahaan untuk melakukan perbaikan kinerja energi secara berkelanjutan.

ISO 50001 menekankan keterlibatan kepemimpinan eksekutif, yaitu manajemen puncak harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara kebijakan energi. Mereka harus mengidentifikasi ruang lingkup sistem, mengkomunikasikan pentingnya penerapan sistem tersebut, memastikan target yang tepat dan indikator kinerja telah ditetapkan, dan memastikan hasilnya telah diukur.

Keberhasilan implementasi ISO 50001 tergantung pada komitmen dari semua tingkatan dan fungsi organisasi, terutama manajemen puncak. Manajemen puncak harus menunjuk wakil manajemen (management representative), yang akan memastikan sistem manajemen telah mematuhi persyaratan ISO 50001, menentukan metode untuk memastikan operasi dan pengendalian sistem dapat berjalan efektif, serta melaporkan kepada manajemen puncak mengenai kinerja dan efektivitas dari sistem manajemen energi.

Organisasi juga harus melakukan, mendokumentasikan, dan mengembangkan proses perencanaan energi, serta mencatat dan memelihara hasil dari tinjauan energi.

(Artikel ini diterjemahkan secara bebas dari www.environmentalleader.com dan sumber lainnya)
Muhammad Hatta Adam, S.T.
Posted by M. Hatta Adam 0 comments
Read More
Powered by Blogger.